Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 055

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 055Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
03 Agustus 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

055

Panembahan Senopati tertawa.

“Rangga, majulah hadapi Damar,” kata gusti prabu.

“Sendhika Rama,” Raden Rangga cepat melompat. Wajahnya sangat gembira. Ia sempat kecewa, niatnya mengadu ilmu dihalangi gusti prabu. Sekarang ramandanya sendiri yang ingin ia tanding melawan Damar, pemuda yang diam-diam juga dikaguminya.

“Damar. Ayo kita main-main sebentar,” kata Raden Rangga melihat Damar agak ragu.

“Rangga, sikapmu lancang terhadap Damar tanpa jelas masalahnya langsung memukul. Sekarang hadapi anak muda itu. Dan engkau, Damar, aku perkenankan melawan Rangga, jangan sungkan. Keluarkan semua ilmumu.”

Perintah Panembahan Senopati terkesan “mengadu domba” tapi sesungguhnya ia ingin menguji Damar yang menarik hatinya. Raden Rangga dijadikan semacam sparing partner untuk mengukur sampai di mana tingkat ilmu yang dimilikinya.

DAMAR tampak begitu gembira, dan mengapa ia bersemangat, hanya anak muda gagah itu dan Sang Hyang Wisesa yang tahu;-juga saya sebagai penganggit cerita ini. Ia menyembah kemudian mengikuti Raden Rangga yang berdiri tegak di tengah lingkaran prajurit. Mereka kini berhadap- hadapan: sama muda, sama tampan, sama bertubuh atletis, sama digdaya. Bedanya, Damar tidak pernah ugal-ugalan, selalu menghadapi apapun dengan sungguh-sungguh. Raden Rangga bengal, melihat kehidupan dari sisi terang, maka tidak pernah susah.

“Damar, sebelum bertanding, tidak penting siapa pemenangnya, tapi engkau maafkan aku yang sembrono memukulmu,” kata Raden Rangga yang berwatak ksatria.

“Tidak apa, gusti pangeran, hamba tidak menaruh dendam. Dan maafkan juga hamba jika dalam pertandingan ini ada yang terluka.”

“Bagus! Jaga seranganku, Damar!” seru Raden Rangga.

Dua orang pemuda perkasa itu mengadu ilmu dengan seru. Saling memukul, menendang, namun semua serangan dapat ditangkis dengan gerakan indah oleh mereka. Debu berhamburan; daun-daun kering bertebaran; angin berkesiuran saking hebatnya gerakan mereka yang dilakukan sepenuh tenaga. Damar mengeluarkan ajian Tameng Waja andalannya, sedangkan Raden Rangga melindungi diri dengan Lembu Sekilan. Dan entah berapa lama pertandingan itu berlangsung.

Raden Rangga trengginas. Damar sedikit lamban namun gerakannya mantap. Pranacitra dan para perwira menonton dengan mulut ternganga. Mereka bagaikan dua ekor harimau muda, saling cakar. Tanpa ada keberpihakan, para prajurit dan teman-teman Damar bersorak gempita. Sementara Panembahan Senopati mengangguk-angguk dengan paras berseri, entah apa yang ada di pikirannya, hanya gusti prabu dan sang pencipta semesta yang tahu.

Raden Rangga kena tampar pelipisnya, tapi tangan Damar meleset seakan memukul batu di sungai yang licin berlumut -- itulah ajian Lembu Sekilan. Lalu Raden Rangga balas memukul, telak mengenai dada Damar yang tersenyum simpul, inilah ajian Tameng Waja. Keduanya empat langkah mundur, kemudian tertawa bareng. Tidak ada amarah sama sekali.

Dua macan itu kembali bertarung. Pada suatu ketika, Damar dapat ditangkap, diangkat ke atas lalu dilontarkan sepenuh tenaga oleh Raden Rangga. Dengan gesit Damar melenting tinggi, melakukan salto tiga kali, dan berdiri ke tempat semula seperti seekor kupu-kupu hinggap di atas setangkai bunga mawar. Raden Rangga bertepuk tangan diikuti para perwira dan kawan-kawan Damar. Tepukan Rangga membuktikan dirinya seorang jujur.

Bersambung: Sandyakala Ratu Malang 056