Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 056

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 056Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
04 Agustus 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

056

Damar tidak mau kalah. Ia berhasil menangkap Raden Rangga, juga diangkat tinggi lalu dilempar ke atas. Raden Rangga menggunakan tenaga lemparan tadi untuk bertengger di pohon sonokeling, berputaran di dahan, lalu meluncur ke bawah dengan berdiri tegak. Damar bertepuk juga diikuti para penonton. Di alas itu, bukan hanya masing-masing menunjukan kasekten serta kecepatan gerak, namun mereka juga saling bersikap suceng.

Bagaimanapun Damar dan Raden Rangga tetaplah anak muda berdarah panas. Begawan Sempani dan Ki Juru Martani tentu tidak kurang-kurangnya mengajarkan kawruh batin; sikap tawaduk; wewarah kasampurnan jati; manunggaling kawula gusti; tentang sangkan paran dumadi. Seharusnya mereka menep, tapi hukum semesta lebih kuasa. Kini keduanya lupa, bahwa mereka sekadar mengukur tenaga. Sekarang yang dilakukan adalah saling menyerang mati-matian.

Raden Rangga yang dikenal sebagai banteng muda Mataram, agul-agulnya kawula muda, mencabut keris pusaka luk 17 Kiai Carubuk buatan Mpu Supa Mandrangi dari sebiji meteor yang besarnya setara biji asam. Konon, tinggalan Sunan Kalijaga itu dibuat dengan puasa mutih 40 hari 40 malam dan dipungkasi pati geni oleh sang empu. Biji baja itu diperam di kamar, dan diberi berbagai macam sesaji sebelum ditempa menjadi wesi aji.

Melihat Raden Rangga melolos keris dari warangka, Damar mundur selangkah, memberi isyarat kepada Dinar yang buru-buru menyerahkan pusaka tombak Kanjeng Kiai Garuda Yaksa. Semua penonton menahan napas melihat dua sipat kandel yang nggegirisi berada di tangan para jagoan muda. Keris Kiai Carubuk mengeluarkan hawa panas, sedangkan tombak Kanjeng Kiai Garuda Yaksa menaburkan hawa dingin. Keduanya berdiri tegak dengan kaki merenggang. Tiba- tiba ketegangan itu dipecahkan dengan suara Panembahan Senopati:

“Rangga! Damar! Simpan pusaka.Tidak malukah kalian terhadap guru kalian yang susah payah mengajarkan kanuragan? Kalian berdua menyebut diri ksatria, tapi masih mudah dikuasai angkara murka,” ujar gusti prabu dengan suara menggelegar.

Ucapan Panembahan Senopati yang mengerahkan aji Gelap Ngampar ini merupakan air sewindu yang mengguyur api kemarahan sehingga hawa dingin bersesaran melesap kepala dan dada kedua anak muda perkasa itu.

“Damar, engkau hebat, aku bangga menjadi sahabatmu,” Raden Rangga tersenyum.

“Hamba belum mampu menyamai kadigdayan gusti pangeran,” Damar merendah.

Keduanya menghadap Panembahan Senopati yang kesengsem tidak hanya kesaktiannya, tapi juga kejujuran serta sikap tawaduk Damar. Kalau saja rata-rata kawula muda Mataram dapat meniru sifat Damar, pasti Mataram semakin jaya.

“Damar, persiapkan dirimu baik-baik. Masih tersisa sedikit waktu engkau bertukar ilmu dengan Rangga,” Panembahan Senopati memerintahkan seluruh prajurit dan teman-teman Damar menuju Tembayat esok pagi sebelum terbit matahari. Dan malam itu digunakan sebaik-baiknya oleh Damar dan Dinar untuk ngangsu kaweruh kepada Raden Rangga yang luas pengalamannya. Mereka bertiga cepat akrab menjadi sahabat. Dinar yang jenaka membuat segar suasana.

Bersambung: Sandyakala Ratu Malang 057