Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 059

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 059Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
07 Agustus 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

059

Di kademangan Tembayat, malam seakan ketakutan. Ki Suradipa risau berguling-guling ke kanan kiri di papremannya. Di bawah rembulan yang jadi kusam, bahkan ular dan kelabang juga turut menyembunyikan diri di ceruk-ceruk pepohonan. Tak ada cerah yang tersisa, rasanya. Di pucuk pohon kesambi merah, kupu-kupu bertangisan sedih ditinggalkan oleh mereka yang mencintai keindahan.

“Berhasilkah Pranacitra membunuh Damar? Berhasilkah Dobleh membinasakan Mila dan Latri?” Entah berapa puluh kali pertanyaan itu di benak Ki Suradipa. Kalau prajuritnya berjaya menumpas gerombolan “penyamun” itu, Dobleh pun sukses membinasakan Mila dan Latri, maka bereslah segala persoalan. Kepada Panembahan Senopati akan dilaporkan seluruh peristiwa itu dengan menumpahkan kesalahan apapun di bahu Damar, si “pemberontak” keparat.

Sekian hari menanti dengan bercemas hati, belum juga datang kabar dari orang-orangnya. Namun Nimas Lembah, selir cantik manis itu, pintar menghibur sehingga untuk sejenak demang itu melupakan kegalauannya. Terlebih-lebih di malam hari, tatkala Nimas menari serimpi, duh gusti, keindahan apa yang mesti didustakan? Demang Suradipa akhirnya melalaikan segala hal, termasuk perbuatannya membantai putra Panembahan Senopati.

DAN saat itupun tiba. Seorang pengawal terburu-buru, gapah-gopoh, memberitahukan ke junjungannya bahwa Panembahan Senopati beserta segenap pengiring, termasuk Pranacitra, telah tiba di regol Kademangan Tembayat. Mendadak tubuh Ki Suradipa seakan demam panas dingin. Ia mondar-mandir gelisah dengan wajah pucat. Demang Tembayat itu “beruntung” karena Nimas Lembah mampu menenangkan dirinya. Ia menyambut kedatangan Panembahan Senopati dengan hati tabah.

Gusti prabu sengaja menyuruh Damar, Dinar, Mila Banowati, Latri Dewani bersembunyi. Setelah berbasa-basi, secara sambil lalu Panembahan Senopati bertanya ke mana putri serta cucu perempuannya, mengapa tidak ikut menyambut. Ki Suradipa menenangkan diri memasang wajah tidak berdosa lalu berkata:

“Ramanda prabu, belum lama ini hamba mengutus Lurah Sandika ke Mataram.”

Panembahan Senopati mengangguk.

“Yayi Mila dan Latri diculik pemberontak di tengah Hutan Somawana.”

Gusti prabu memandang tajam.

“Benarkah laporanmu itu?”

Demang Suradipa menyembah khidmat sebelum menjawab:

“Ampun ramanda prabu. Laporan itu benar!”

“Suradipa. Coba engkau membalik ingatanmu ke masa silam. Kurang berkah anugerah yang kuberikan padamu? Engkau aku angkat menjadi demang di Tembayat.”

“Hamba sedetik pun tidak pernah melupakan limpahan nikmat berkat dari ramanda prabu Sampai kelak hamba mengembuskan napas terakhir, hamba senantiasa mengingat kebaikan dan katresnan ramanda prabu terhadap hamba,” Ki Suradipa menunduk sampai jidatnya menyentuh lantai. Dan ubin pun basah oleh keringatnya.

“Engkau aku beri karunia lebih. Ingat itu Suradipa? Mila Banowati aku serahkan menjadi istrimu. Mengapa engkau berani dusta kepadaku?” bentak Panembahan Senopati.

Pias paras Demang Suradipa. Badannya menggigil seperti kedinginan.

“Ramanda prabu, ahhh, mana hamba berani berbohong, hamba, hamba benar-benar,”

“Keparat! Suradipa angkat wajahmu. Beranikah engkau bersumpah bahwa apapun yang engkau katakan tidak dusta?” tanting Panembahan Senopati.

“Tidak, ahh, hamba…hamba berani bersumpah.”

“Suruh keluar selirmu bernama Lembah itu. Cepat!”

BERSAMBUNG: SANDYAKALA RATU MALANG 060