Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 060

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 060Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
08 Agustus 2020 21:57 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

60

“Jangan sebut aku ramamu,” damprat Panembahan Senopati, kemudian memberi isyarat. Damar muncul dengan tombak Kanjeng Kiai Garuda Yaksa di tangan kanan. Pemuda perkasa ini berjalan perlahan dengan dada tengadah. Sepasang matanya berkilat-kilat memandang Suradipa, musuh cecanggahannya. Suradipa semakin gelisah, tubuhnya seperti orang habis mandi. Tiba- tiba Nimas Lembah yang melihat kehadiran Damar menuding dengan jarinya yang lentik.

“Pemuda itu yang membunuh Gusti Pangeran Arumbinang,” teriaknya sambil menangis.

Panembahan Senopati memandang Nimas Lembah Manah dengan sorot menghina.

“Sabarlah sebentar menanti hukuman,” hardikan gusti prabu membuat Nimas klakep.

Damar bersila di hadapan Panembahan Senopati. Wajahnya biasa saja, kendati di dalam hati berkobar-kobar api kebencian melihat Suradipa.

“Suradipa! Orang yang kau fitnah sudah berada di depanmu. Coba ulangi sekali lagi kata- katamu tadi. Damar ini yang membunuh Arumbinang?”

Dengan suara terputus-putus Suradipa menuturkan betapa Damar menyerbu masuk taman dan membantai Pangeran Arumbinang serta Ki Ageng Permana. Pemuda itu pula yang melukai lengannya dengan keris.

“Damar. Engkau bebas bicara untuk membela diri dari tuduhan Suradipa,” ucap lembut Panembahan Senopati.

“Semua yang dikatakan Suradipa itu dusta belaka. Pada waktu malam yang diceritakan tadi, hamba sedang sibuk menghadapi serbuan pasukan di bawah pimpinan Pranacitra. Banyak saksinya. Hamba, Dinar dan kawan-kawan merundingkan siasat di hutan. Putri gusti prabu, bibi Mila dan putrinya, mereka juga berada di alas Anjali. Tuduhan Suradipa itu sangat biadab. Tidak ada masalah apapun, bagaimana hamba bisa membunuh Pangeran Arumbinang serta Ki Ageng Permana?” kata Damar tenang.

Panembahan Senopati mengusap-usap dagunya.

“Damar, apakah engkau tahu siapa pembunuhnya?”

Damar menggelengkan kepala.

“Hamba tidak mengerti. Tentu Suradipa dan selirnya tahu pasti akan hal ini.”

“Benar! Akulah saksinya,” seru Nimas Lembah.”Engkau yang membunuh kedua utusan agung dari Mataram. Aku berani bersumpah!” sambungnya tegas.

“Benarkah kata selirmu itu, Suradipa?” tanya gusti prabu.

“Benar ramanda, ehh, kanjeng gusti sinuhun. Damar ini pembunuhnya. Tombak Kanjeng Kiai Garuda Yaksa itu pusaka hamba juga dirampasnya,” ujar Demang Suradipa yang diam-diam memuji kecerdikan serta ketabahan selir tercintanya. Tidak rugi ia mengambil sebagai ampeyan.

Dalam kebingungannya, ketika melihat Damar menenteng tombak pusaka Kanjeng Kiai Garuda Yaksa, Suradipa dengan linglung separuh pikun mengatakan tombaknya dirampas oleh Damar, sama sekali lupa bahwa pusaka itu dulu digunakan menusuk dada Begawan Sempani.

“Benarkah itu Damar? Engkau melukai lengan Suradipa dan merampas tombaknya?”

“Keterangan itu pun bohong, kanjeng sinuhun,” Damar menjawab tenang.

Panembahan Senopati minta tombak itu yang diserahkan Damar penuh hormat. Senjata pusaka itu diamati penuh kekaguman. Hanya orang-orang sakti yang mencapai tataran tinggi, yang mampu “wawancara” dengan khodam yang manjing di setiap benda pusaka.

“Dari mana engkau mendapatkan tombak ini?” tanya Panembahan Senopati.

Seketika Damar pucat wajahnya.

BERSAMBUNG: SANDYAKALA RATU MALANG 061