Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 064

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 064Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
14 Agustus 2020 23:27 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

064

“Suradipa! Engkau dengar ucapan putraku, Damar, yang bersikap ksatria sejati. Tidak malukah engkau, durjana? Aku kabulkan permintaan anakku. Dan aku sama sekali tidak akan mencampuri masalah pribadi ini. Engkau kuberi kebebasan untuk bertanding secara laki-laki dan aku jamin tidak ada satu pun yang hadir di sini ikut nimbrung. Kalau engkau sampai tewas dalam adu ilmu ini, semua menjadi saksi, bahwa pertandingan berjalan adil. Sebaliknya jika engkau menang, dan Damar tewas dalam pertandingan, engkau tidak dihukum karena membunuhnya,” sabda Panembahan Senopati membuat Suradipa memiliki harapan. Dan harapan, ibarat berjalan di hutan liar, pada awalnya tidak ada jalan setapak, namun sesudah banyak orang melewatinya jalan itu tercipta.

“Nanti, jika engkau menang secara jujur, aku yang akan menghukum bukan soal dendam, tapi karena secara curang engkau membunuh Arumbinang dan berniat mencelakan putriku.”

Suradipa kembali murung. Artinya, dalam suasana seperti apapun tidak akan mungkin ia lolos dari hukuman. “Biarlah kalau aku dihukum mati setidaknya nyawaku tak akan penasaran jika aku dapat mengajak arwah Damar sama-sama ke neraka,” geramnya sedikit menghibur diri cenderung putus asa.

Malam hari itu, Demang Suradipa dan Nimas Lembah dimasukkan ke ruang tahanan dan pertandingan direncanakan besok setelah matahari terbit. Panembahan Senopati memerintahkan seluruh kawula Tembayat hadir menyaksikan perang tanding di alun-alun. Ketika paginya para penjaga hendak mengeluarkan Suradipa dari bilik khusus, terkejutlah mereka melihat sang selir Nimas Lembah mati dengan kedua matanya melotot hampir keluar, dan lidahnya menjulur kaku. Wajah molek itu berubah horor. Barangkali insaf akan kabair (dosa besar) yang telah dilakukan sekaligus menyesali polahnya selama ini karena rayuan jahat dari selir tercintanya, juga ia paham tidak ada lagi jalan hidup untuknya, Demang Suradipa mencekik batang leher Nimas Lembah yang selama ini sering dicumbunya.

“Perempuan sundal, lonte busuk. Baru sekarang terbuka mataku. Kalau aku nanti tewas, sudah pasti engkau segera mencari penggantiku. Lebih baik engkau mendampingiku ke neraka,” kata Suradipa dengan bengis. Seberapapun rayuan selirnya, dan seberapapun air matanya tumpah ruah, Suradipa bergeming. Kedua tangannya bagai jepitan baja mencengkeram leher mulus itu dan mematahkan tulang-tulangnya. Benarkah Nimas ke neraka? Hanya surga yang tahu.

Astagfirullahalazim,” Panembahan Senopati menggeleng-gelengkan kepala menyebut asma Allah ketika mendapat laporan dari penjaga. Gusti prabu bergegas menuju alun-alun yang dipenuhi rakyat Tembayat untuk menonton adu kadigdayan Pangeran Arya Damar melawan Demang Suradipa. Mereka seperti “Déjà vu”—rasanya pernah mengalami hal serupa sebelumnya—karena sepertinya baru kemarin di tempat sama diadakan laga kasekten antara Begawan Sempani menghadapi macan garang yang akhirnya mati di tangan Damar.

Pemuda itu memasuki gelanggang pertempuran dengan dada terangkat, dan tombak Kiai Garuda Yaksa di tangan. Kedatangan Damar disambut “standing applause” riuh rendah seluruh kawula yang menaruh empati kepadanya. Ketika dengan menunduk Demang Suradipa memasuki kalangan, yang terdengar justru caci maki disertai umpatan-umpatan kasar dari rakyat Tembayat.

BERSAMBUNG: SANDYAKALA RATU MALANG 065