Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 066

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 066Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
18 Agustus 2020 23:37 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

066

Sorak gemuruh membelah langit Tembayat. Rakyat merasa seolah ada batu sebesar anak gajah lepas dari dada. Plong! Penguasa dakwenang itu telah binasa. Panembahan Senopati masuk ke gedung kademangan diiringi seluruh senopati. Pangeran Arya Damar—nama anyar ganjaran dari ramandanya—sungkem di depan gusti prabu, dan sekali lagi mengajukan satu permohonan.

“Ampun ramanda prabu. Hamba mohon paduka berkenan mengangkat Dinar, ia sahabat sekaligus teman seperjuangan, menjadi Demang Tembayat menggantikan Suradipa. Dari jasanya juga dalam olah kanuragan, Dinar dan hamba seimbang. Terutama sekali lambé ati, pakertinya, bumi langit dengan Suradipa. Mohon rama prabu mempertimbangkan.”

Panembahan Senopati mengangguk dengan sambutan tepuk tangan para pemuda Anjali. Dinar maju dan menyembah menghaturkan terima kasih kepada sang penguasa Mataram itu.

“Satu permohonan lagi rama prabu. Hamba mohon Dinar dijodohkan dengan keponakan hamba, Latri Dewani, karena hamba yakin sepasang remaja itu saling mengasihi dan kelak hari semoga menjadi pasangan yang sakinah, mawaddah dan warahmah. Kakang mbok Mila tentu tidak berkeberatan karena beliau paham sifat watek Dinar,” kata Pangeran Arya Damar.

Dinar menunduk dengan muka merah padam. Ia melirik sahabatnya itu dengan pandang mata terharu. Sedangkan Latri terisak-isak, entah sedih, entah gembira, entah keduanya karena ia sendirilah yang tahu.

“Dinar, benar engkau mengasihi Latri?”

“Hamba, hamba mencintai diajeng Latri luar dalam, gusti sinuhun,” Dinar, yang biasanya jenaka, saat itu tergagap bicaranya.

“Cinta kok seperti pakaian saja, pakai luar dalam,” timpal Raden Rangga tertawa.

“Hamba menyerahkan keputusan kepada ramanda prabu,” ujar Milla Banowati dengan kepala tertunduk. Hatinya masih miris mengenang kematian Suradipa, yang bagaimanapun tetap suaminya, pria di mana ia dulu menaruh asa dan tresna. Belum juga kering air matanya, sekarang orang-orang membicarakan perkawinan Latri yang praktis yatim.

“Engkau sendiri, Latri?”

Dara bangsawan yang santun lembut itu hanya mengangguk. Ia tidak terlampau berpikir tentang kematian ayahnya. Jarangnya mereka berjumpa membuat Latri kurang memiliki ikatan emosional anak dan ayah. Ia tidak mampu menjawab semata-mata malu dirinya dibincangkan di depan banyak orang.

“Sebelum persidangan ditutup, aku perintahkan Pranacitra menjatuhkan hukuman kepada seluruh pengikut Suradipa. Hukum mereka secara jujur, terbuka, dan terukur,” titah Panembahan Senopati yang tidak ingin berlama-lama di Tembayat.

Setelah menikmati hidangan, yang kali ini disiapkan khusus oleh Mila Banowati, gusti prabu kembali ke Mataram bersama Raden Rangga dan rombongan pengawal. Pangeran Arya Damar memegang erat tangan Dinar dan Latri yang mengantar sampai regol gapura.

“Satu harapanku, kalian hidup rukun, bahagia sampai ajal tiba,” ujar Damar.

“Pamanda pangeran, mohon diampunkan segala polah hamba selama ini, dan doa hamba semoga pamanda mendapat barokah sang Hyang Wisesa, menemukan jodoh yang diinginkan di kota raja,” bisik Latri dengan mata sembab. Damar belum sempat menjawab, Latri berlari masuk gedung kademangan.

BERSAMBUNG: SANDYAKALA RATU MALANG 067