Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 067

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 067Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
19 Agustus 2020 21:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

067

“Terima kasih sahabatku. Engkau tidak tanggung-tanggung mengangkat harkat derajat diriku yang hina ini ke tempat yang mulia. Dan, ehmm, dan engkau mengorbankan hatimu yang luka, ahh, kalau saja engkau bukan pamannya, tentu aku dengan tegas akan mengundurkan diri,” kata Dinar dengan mata berkaca-kaca.

Pangeran Arya Damar menunduk. Benar kata kawan dekatnya ini. Hatinya tersayat-sayat bukan karena cinta bertepuk sebelah tangan, tapi Latri ternyata keponakannya sendiri, coba saja kalau, ahh sudahlah!

“Jangan berkata begitu Dinar, kita ..”

“Kita sama-sama mencintai Latri. Aku kalah bersaing, namun….”

Hush. Jangan macam-macam. Aku ini paman Latri, artinya, pamanmu juga,” Pangeran Arya Damar tertawa (meski getir) untuk mengalihkan pembicaraan.

Dinar sigap berdiri tegak layaknya prajurit menghadap pimpinan. Kedua tangan pemuda kocak itu lurus ke bawah. Dadanya yang bidang terangkat. Sikap sempurna seorang tentara.

“Sendhika, paman pangeran! Hamba berjanji menjaga Latri sepenuh jiwa. Semoga kami dapat hidup bahagia sesuai harapan paman.”

Pangeran Arya Damar tertawa melihat sikap Dinar yang kelihatan serius.

“Bagus, Demang Dinar. Jadilah penguasa yang ambaudhendha nyakrawati. Tembayat semakin ngrembaka, gemah ripah loh jinawi di bawah pimpinanmu, aku percaya itu.”

“Selamat jalan, pamanda pangeran,” Dinar menunduk hormat.

Pangeran Arya Damar meloncat ke atas pelana kuda gagah berwarna putih kecokelatan. Kedua kakinya menginjak sanggurdi. Ketika memacu tunggangannya itu menyusul rombongan Panembahan Senopati, Dinar berseru:

“Pamanda pangeran….”

Pangeran Arya Damar menahan kendali kudanya.

“Ada apa, Dinar?” tanyanya heran.

“Maafkan hamba mengajukan satu permohonan, pamanda pangeran.”

“Permohonan apa?”

“Kelak, jika Hyang Wisesa berkenan memberi momongan, kalau lahir putra, apa hamba diperbolehkan mengasih nama … Damar Panuluh?”

Kedua mata Pangeran Arya Damar berkejap-kejap. Ia menahan agar tidak runtuh waspa. Pangeran kok menangis?!

“Setuju! Kelak, kalau cucuku Damar Panuluh sudah lahir, aku akan memberikan pusaka, tombak Kanjeng Kiai Garuda Yaksa kepadanya dengan harapan ia akan menjadi pendekar gagah perkasa seperti ayahnya.” Tanpa memberi kesempatan Dinar menjawab, Pangeran Arya Damar menyendal kudanya yang langsung “terbang” ke timur.

Dinar masih berdiri di tempat. Dengan kedua kaki terpentang. Melihat sahabat sekaligus pamannya itu di atas kuda sampai bayangannya hilang di sebuah kelokan. Dengan hati terharu ia terus berdiri hingga derap kaki kuda itu terdengar lamat-lamat sampai kemudian hilang.

“Pamanda pangeran, doa tulusku untukmu. Latri Dewani gadis terbaik untukmu. Namun nasib menghendaki lain. Aku tahu Latri masih tetap mencintaimu. Dan aku memahaminya.”

Pangeran Arya Damar melamun di atas sadel kuda yang melaju rikat. Ia patah hati, dan kegalauan itu menghunjam nun di lubuk manah paling dalam, meski pemuda itu baru mengalami sekali jatuh cinta. Pangeran digdaya itu tidak hanya piawai olah kanuragan serta olah santika. Ia pintar menabuh gamelan, dan suaranya merdu melantunkan tembang sinom atau asmaradhana. Kelak, di istananya Damar sering menganggit tembang-tembang “lament” dan tak hanya dirinya namun para remaja yang cintanya bertepuk sebelah tangan juga ikut “memviralkan” tembang elegi serta membuat komunitas “sobat ambyar” sehingga tidak berapa lama kemudian Pangeran Arya Damar mendapat julukan Sri Narendra Kantaka (pinjam istilah sekarang Lord of Broken Heart – Pen)

BERSAMBUNG: SANDYAKALA RATU MALANG 068