Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 068

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 068Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
20 Agustus 2020 23:37 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

068

RESPATI Cemengan. Di angkasa rembulan sedang bergembira merayakan purnamanya. Malam itu suasana Tembayat berbeda dengan malam sebelumnya. Sejak senja, rata-rata kawula di kademangan cukup gemah ripah itu seakan ngeri membuka pintu. Mereka khusyuk membakar hio, dan mendaras mantra di sanggar pamujan. Asap wangi menguar dari atap rumah, berkumpul di angkasa, bercanda dengan restan sinar rembulan yang temaram, menebarkan aroma magis. Malam jumat kliwon semenjak dulu diyakini sebagai hari keagungan bagi segenap jin setan iblis dedemit, demon, popok, pejajaran bekasakan. Manusia yang bergiat kudu istirahat jika ingin selamat dunia akhirat.

Sudah menjadi keyakinan umum, di malam sukra kasih, apalagi kala lepas surup, seluruh dedemit gentayangan di seantero permukaan bumi, mencari korban manusia yang ringkih imannya dan rapuh batinnya. Mereka, parade roh halus ini (konon) muncul dari pohon besar; dari gua-gua angker; berduyun-duyun memasuki dusun dengan suara gemuruh, baur dengan alunan jangkerik, walang kekek, kalong, tarsius, burung hantu, kuskus, kiwi, lemur dan kukang.

Suara-suara mistis ini melewati rumah-rumah yang tertutup rapat, kadang diseling kepak sayap burung nokturnal. Atau jeritan panjang serigala yang ngelangut. Juga cericit galago, lemur, dan bangkong serasah. Orang akan sulit membedakan antara suara burung kulik dengan ratapan kuntilanak kehilangan anak yang sedang mencari penggantinya di antara bayi manusia yang baru lahir. Terkadang, jika angin sejenak menghentikan desisnya, suara-suara itu pun lenyap. Di titik inilah (konon) roh jahat menerkam korbannya.

Dan pada saat lengang mencekam, ketika purnama ikut menyembunyikan sebagian paras keemasannya di balik awan hitam berbentuk Batara Kala, di saat angin rehat bertiup dan semua warga Tembayat meringkus berkerudung sarung di atas tempat tidur, ibu-ibu mendekap anaknya, para suami memeluk istrinya, pada saat itulah terdengar jerit melengking yang nyaring mengerikan, yang hanya dapat keluar dari mulut iblis, atau teriakan seseorang yang sukmanya di tapal batas ajal. Seluruh rakyat Tembayat menggigil sampai berdiri rambut kepala saking ngeri, dan ketakutan terlebih bagi mereka yang berdekatan dengan rumah tua dari mana suara lengking menyayat terdengar disusul tangis memilukan. Mereka paham telah terjadi sesuatu yang dahsyat, namun rasa seram membuat para tetangga pura-pura tuli. Siapa berani keluar rumah pada malam terkutuk seperti itu?! Entah sudah ke berapa kali terjadi peristiwa menggiriskan seperti ini.

Dua bayangan hitam berkelebat dari pekarangan rumah Pranacitra. Mereka dua laki-laki tinggi besar dengan tubuh bakuh. Keduanya sama-sama memelihara misai tebal dan mengenakan pengikat kepala wulung yang ujungnya runcing ke atas. Dari jauh ditimpa lampu teplok temaram bayangan mereka seperti iblis bengis bertanduk.

“Kita harus segera memberi laporan kepada bapa guru,” bisik seorang di antaranya.

Meski badan mereka gempal, namun gerakannya akas dan begitu ringan. Seolah-olah tak menginjak tanah. Jika ada seorang saja kawula Tembayat melihat mereka, tentu yakin bahwa di malam singup itu bertemu hantu sedang berkeliaran.

CERITA BERSAMBUNG: SANDYAKALA RATU MALANG 069