Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 069

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 069Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
21 Agustus 2020 23:27 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

069

Dua lelaki berpostur raksasa dan berwajah menyeramkan itu terus berlari cepat melompat genting-genting rumah warga desa, sama sekali tanpa mengeluarkan suara. Mereka keluar gapura Tembayat dengan meloncati gerbang sebelah timur. Kemudian memasuki hutan rungkut tak jauh dari kademangan Tembayat. Lalu dengan hati-hati membuka pintu sebuah pondok mungil.

Terdengar derit daun lawang terbuka, dan api misbah di ruang pondok bergoyang samar terbawa angin yang ikut menerobos bersama dua raksasa itu. Pintu ditutup kembali. Nyala kandil kembali anteng, hanya menyisakan sinarnya yang suram. Dua ekor kelelawar terbang berputaran di dalam pondok, mengeluarkan bunyi mencicit diseling suara kepakan sayap.

Api cublik bergoyang-goyang terkena sambaran sayap kalong. Tidak jelas ulah binatang menyeramkan ini untuk “menyambut” kedatangan dua raksasa atau barangkali kaget ada tamu. Sesudah dua orang lelaki sangar itu duduk, dua kelelawar hitam berhenti terbang, memilih diam menggantung di bawah atap daun ijuk yang adem.

Hik-hik-hik-hik-hik

Di balik tabun kemenyan yang mengepul tebal, suara ketawa itu terdengar seperti iblis sedang ngakak gembira. Dua raksasa bengis itu memandang takjub bercampur seram. Mereka ini terbiasa mencekik leher orang sampai mati dengan lidah menjulur tanpa mata berkedip;- mereka melihat kawannya menggorok musuh hingga darah muncrat seperti pancuran sebagai hal banal. Namun “tontonan” di dalam pondok pengap sarat kukus loban, terlebih setelah baru saja mereka membuktikan sendiri di gedung Pranacitra, benar-benar sudah melampaui batas ketabahan, dan bulu kuduk mereka merinding.

Kakek yang bersila di balik tabir asap kemenyan itu sudah tua sekali, begitu renta sampai kulit wajahnya yang berkeriputan membuat parasnya seperti bukan manusia. Tubuhnya bongkok kerempeng, muka tirusnya berkulit legam sehingga yang kelihatan hanya warna putih matanya, dengan mulut nyaris ompong menyisakan dua gigi yang menguning. Sekuning sorban dekil yang membungkus kepalanya. Apa yang menempel di tubuh kakek wreda ini serba kotor menjijikkan.

Ruangan pondok sumpek itu bertebaran tengkorak manusia yang oleh gerakan asbut dupa bergulung-gulung tampak seakan hidup, dan mata yang tidak berbiji seperti melotot, juga mulut tidak berbibir seperti menyeringai. Kakek itu memegang sebilah cundrik kecil, hanya sejengkal panjangnya, di mana ujungnya berlumuran darah segar menguar amis. Di depan perutnya, tangan kirinya memegang boneka dari tanah liat. Boneka yang memakai wastra layaknya manusia itu juga berlumuran darah. Jika dipandang teliti, boneka tersebut serupa benar dengan Pranacitra.

Hik-hik-hik. Bagaimana kerjamu Watugeni, berhasilkah?” tanya kakek itu kepada satu di antara sepasang raksasa itu, mungkin yang sulung.

“Sangat mengagumkan bapa guru! Kami mendengar sendiri lolong kematian Pranacitra. Kami melihat dia terkapar di lantai,” jawab raksasa yang pipi kanannya ada tanda bekas luka bacok. Codet itu membuat wajahnya semakin tampak kejam.

Heh-heh-heh. Aku sudah tahu,” Kakek itu melempar boneka “Pranacitra” ke pojok dan menyimpan cundrik di sabuknya yang kusam dekil.

“Sebelum kalian memberi laporan, kalong-kalongku pulang lebih dulu mewartakan hasil usahaku. Dan darah di cundrik menjadi tanda yang tidak dapat disangkal lagi, hik-hik-hik.”

BERSAMBUNG: SANDYAKALA RATU MALANG 070