Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 070

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 070Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
24 Agustus 2020 23:47 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

070

Watupati, adik Watugeni, bergidik. Tadi ia memang mendengar kepak sayap kelelawar di atas atap rumah Pranacitra. Binatang nokturnal yang konon membawa virus itu berputar-putar di udara seperti sedang menjenguk keadaan di dalam gedung kuno itu.

“Bapa guru benar-benar hebat. Tidak ada seorang pun mampu menandingi kasekten bapa guru. Apa yang dilakukan di sini sungguh mengagumkan,” kata Watugeni dengan nada menjilat.

“Demang itu kelak akan merasakan sendiri keampuhan bapa guru,” timpal Watupati.

Hik-hik-hik. Kalian lihat saja nanti pas hari respati pekan depan. Kalian tonton baik-baik dan bergembiralah, karena pada malam itu Demang Tembayat menerima giliran modar di ujung cundrik pusakaku ini, heh-heh-heh.”

“Bapa guru, bukankah Pangeran Arya Damar yang konon kabarnya memiliki kadigdayan sejajar dengan Panembahan Senopati itu yang dulu menewaskan paman Suradipa?”

Heh-heh-heh, kalian tahu apa? Dinar itu sahabat Damar sejak mereka sama-sama muda. Matinya Dinar akan membuat Damar berduka. Dan nanti, titiwanci tiba, Damar pun akan binasa. Kalian buktikan, lebih ampuh mana, Damar atau aku? Hik-hik-hik,” ujar kakek itu jemawa.

 “Kalian tahu, adik seperguruanku, Suradipa, tewas secara curang di tangan pangeran itu yang membawa tombak pusaka perguruan kami, Kanjeng Kiai Garuda Yaksa. Tanpa pusaka itu, mana mungkin Suradipa kalah? Dinar selalu ngawula di belakang Damar. Maka istrinya aku bunuh dulu, baru kemudian Dinar dan Damar,” sambung kakek itu pongah sekali.

“Maaf bapa guru, kabarnya kesaktian Dinar seimbang dengan Damar sehingga…”

Heh-heh-heh. Boleh jadi Dinar ampuh. Dia barangkali sukar dihabisi dengan caraku ini. Tapi istrinya, walau cucu Panembahan Senopati, hanya wanita lemah. Kalian lihat saja tujuh hari lagi. Hati-hati jangan terlampau dekat mengintai di gedung kademangan itu.”

Watugeni dan Watupati mengangguk-anggukkan kepala dengan bulu kuduk meremang.

Sendhika. Sekarang kami mohon pamit untuk terus menerus mengawasi rumah induk kademangan sampai waktu hari pelaksanaan datang.”

Kakek menyeramkan itu mengangguk. Dua raksasa hitam ini membuka daun pintu, lalu menutup kembali dengan hati-hati. Misbah di dalam bergoyang-goyang sebentar diterpa angin. Kakek bongkok itu tersaruk-saruk menghampiri arca Batara Kala yang berdiri angker di pojok, menjatuhkan diri berlutut sambil mencium kaki rupang, dan mulut ompong itu berkemak-kemik. Tiba-tiba, sepasang mata reca Batara Kala seperti mengeluarkan cahaya berkilat kebiru-biruan.

Siapa sebenarnya kakek renta menggiriskan ini?! Sebagaimana ia menuturkan kepada dua orang muridnya, kakek itu kakak seperguruan bekas demang Tembayat, Ki Suradipa. Dua puluh tahun ia bertapa di Gunung Kelir. Pendeta ini sesungguhnya penganut Hindu yang merantau jauh ke nuswantara, seperguruan dalam olah kanuragan. Bedanya, Wiku Suragati—demikian kakek itu menjuluki dirinya—lebih mendalami ilmu hitam, meski tidak berarti ia kurang menguasai kanuragan. Untuk olah kasantikan, adik seperguruannya unggul selapis. Bedanya lagi, Suradipa mualaf, Wiku Suragati penyembah fanatik Batara Kala.

Ketika Suragati mendengar kematian adik seperguruannya di tangan Damar, kendati ia puluhan tahun bertapa, tapi hatinya dipenuhi dendam kesumat. Turunlah ia dari Gunung Kelir, menanggalkan jubahnya. Di tengah hutan lebat, wiku itu dihadang sepasang begal yang puluhan tahun malang melintang sebagai penyamun.

BERSAMBUNG: SANDYAKALA RATU MALANG 071