Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 071

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 071Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
25 Agustus 2020 23:57 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

071

Ketika Suragati mendengar kematian adik seperguruannya di tangan Damar, kendati ia puluhan tahun bertapa, tapi hatinya dipenuhi dendam kesumat. Turunlah ia dari Gunung Kelir, menanggalkan jubahnya. Di tengah hutan lebat, wiku itu dihadang sepasang begal yang puluhan tahun malang melintang sebagai penyamun. Tidak membutuhkan tempo lama, sepasang begal itu ditundukkan, bahkan kemudian diterima sebagai murid sekaligus pesuruhnya.

Dari penuturan muridnya, Wiku Suragati yang selalu bertindak hati-hati mengetahui jika Dinar menggantikan Suradipa sebagai demang bukan seorang lemah. Kasekten demang anom itu hanya sedikit di bawah Pangeran Arya Damar, sebab keduanya murid kinasih Begawan Sempani Hampir dua tahun Wiku Suragati mengamati dan menyuruh muridnya melakukan investigasi ke tatar Tembayat. Ia sendiri memilih bersembunyi di hutan rungkut dengan membangun pondok sebagai sanggar pamujan ditemani arca Batara Kala dan tiga ekor kalong peliharaannya.

Di samping menyelidiki seberapa besar kekuatan yang ada di kademangan Tembayat itu, Wiku Suragati juga tekun memperdalam ilmu hitamnya. Ia menanti saat tepat untuk menunaikan dendamnya. Dan kesempatan itu datang ketika suatu hari Wiku Suragati didatangi utusan khusus Pangeran Purwawisesa dari kota raja. Pangeran tampan yang lahir dari salah satu ampeyan raja Mataram itu bukan pemuda lemah, meski tingkat kasektennya jauh dibanding Raden Rangga dan Pangeran Arya Damar. Menyadari bakatnya kurang dalam kanuragan, Pangeran Purwawisesa yang berpenampilan semanak itu selalu ramah terhadap dua saudara tirinya yang sangat ditakuti: Rangga dan Damar.

Dalam hati Pangeran Purwawisesa menaruh dengki kepada Pangeran Arya Damar, juga Demang Dinar yang menjadi suami dari keponakannya, Latri Dewani. Pertama, ia sesungguhnya berambisi menjadi penguasa di Tembayat karena ia tahu persis tidak mungkin jadi pangeran pati.

“Di istana ini sampai jompo pikun aku hanya pangeran. Putra mahkota dapat dipastikan jatuh ke tangan Mas Jolang, karena ibunya adalah putri Ki Ageng Penjawi. Sementara iyungku cuma seorang selir,” ujar getun Pangeran Purwawisesa di biliknya. Ia tidak menyadari bahwa ia menjadi pangeran pun bukan atas prestasi dirinya sendiri. Ia ada semata karena kuasa yang ada dalam ramandanya. Dengan kata lain, ia hanya bayang-bayang semu dari sesuatu yang lain.

Dan, diam-diam pula Pangeran Purwawisesa yang sebenarnya tidak termasuk lelaki mata keranjang ini (ia anti memelihara selir) jatuh cinta terhadap Latri Dewani, putri kedaton cantik yang terhitung masih keponakannya. Ia patah hati namun tidak termasuk “sobat ambyar” seperti para lajang di Mataram yang cintanya tidak berbalas. Dari dua hal itulah, ia merencanakan siasat keji, dan menyuruh Triman, orang kepercayaannya, untuk menghubungi Wiku Suragati.

Apa yang terjadi ketika dua kepentingan bertemu pada satu titik? Koalisi, tentu saja. Sang wiku menyambut sukacita uluran tangan Pangeran Purwawisesa, yang menjanjikan kakek renta itu menjadi penasihat spiritualnya jika ia berhasil menjabat demang di Tembayat. Dengan status penasihat atau apapun istilahnya, satu hal jelas yaitu ia tidak akan jauh dari upaboga. Kamulyan.

“Lemahkan dulu kekuatan di kademangan Tembayat. Salah satu perwira andalan adalah Pranacitra. Kami percaya Wiku Suragati mampu melakukan dengan mudah. Jika berhasil, hadiah sudah disiapkan oleh Pangeran Purwawisesa,” kata Triman disambut tertawa gembira oleh kakek yang busananya saja pendeta tapi hatinya penuh nafsu angkara murka. Hadiah rajabrana, posisi penasihat demang, ini dua hal yang sangat menggiurkan.

BERSAMBUNG: SANDYAKALA RATU MALANG 072