Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 072

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 072Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
26 Agustus 2020 23:27 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

072

Tembayat geger! Senopati yang adika di kademangan itu mati mistrius dengan keadaan sangat mengenaskan. Mula-mula lengan kirinya, entah kenapa, mendadak mengucurkan darah. Disusul lengan kanan Pranacitra juga luka seperti tersayat benda tajam. Dan akhirnya tepat ulu hati menyemburkan darah hitam kental yang mendatangkan kematian.

Perbuatan setan? Atau Kanjeng Ratu Kidul, entah mengapa, menjadi murka dan tentara Laut Selatan mendarat kemudian menyebar maut di Tembayat yang merupakan bagian daulat Mataram? Atau iblis-iblis dari Lawu “turun gunung” karena marah oleh sebab yang entah.

Di istananya, Pangeran Purwawisesa rajin menebarkan intrik. Lewat orang-orangnya isu ditiupkan ke Mataram, bahwa Demang Dinar yang membunuh Pranacitra karena dianggap tidak sejalan dengan penguasa Tembayat yang berniat “makar” terhadap kekuasaan raja. Dan tak cuma Pranacitra, demang muda itu berencana membinasakan istrinya sendiri yang menghalangi niat memberontak kepada Panembahan Senopati. Namanya juga rumor, tentu keji, dan sukar diterima nalar. Itulah yang terjadi. Beragam isu; rumor; kontranarasi semua dijatuhkan ke pundak Dinar, dan rakyat biasanya mudah terhasut karena memang tidak terlatih berpikir logis empiris.

Ada desa masih lingkup Mataram yang menjadi episentrum pengolahan fitnah. Mayoritas warganya loyal kepada Pangeran Purwawisesa. Pangeran itu dibisiki oleh seorang penasihatnya. Bahwa kebohongan jika terus menerus didengungkan sebagai kebenaran akan menjadi (seolah) benar. Desa tersebut akhirnya sebagai hot spot penyebaran desas desus. Kawula bergiat menebar rumor setiap hari ibarat angka-angka lotre yang tidak ada habisnya.

“Dusta adalah fakta yang disembunyikan,” kata Triman, sang provokator. “Faktanya kita tahu kinerja Ndara Purwawisesa selama ini,” lanjutnya dengan narasi seenak perutnya sendiri.

Isu kejam itu menembus gapura istana Mataram dan sampai ke telinga gusti prabu, juga Pangeran Arya Damar. Namun keduanya wicaksana dan berwawasan luas, Tidak mau menelan mentah-mentah fitnah yang menimpa Demang Dinar. Panembahan Senopati hanya berpesan agar para perwira serta telik sandi memasang mata telinga serta melakukan penyelidikan.

Terkejutkah Dinar?!

Demang muda itu setidaknya dua kali terperangah. Pertama, saat mendapat berita bahwa Pranacitra tewas misterius. Belum rampung terkejut, Dinar semakin kaget dengan desas-desus dia merencanakan pemberontakan terhadap Mataram. Sebagai murid Begawan Sempani yang kadigdayan gurunya seperti tidak terukur, Dinar menduga kematian Pranacitra tidak jauh dari santet gendam perbuatan datuk hitam. Sang istri, Latri Dewani, juga mendengar kabar angin itu. Garwa cantik dan setia ini memeluk mesra suaminya di atas pembaringan.

Sepuluh tahun pernikahan. Kendati mereka belum dikaruniai anak, toh Dinar dan Latri tetap istikamah. Dinar berkali-kali menampik keras usulan istrinya supaya ia mengambil selir untuk menyambung keturunan. Murid satu perguruan dengan Pangeran Damar itu tawaduk, sederhana, tidak suka kemewahan, jujur dalam bertugas, ramah terhadap anak buah. Tidak heran kawula Tembayat menyegani demang juga istrinya yang rendah hati.

BERSAMBUNG: SANDYAKALA RATU MALANG 073