Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 073

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 073Sandyakala Ratu Malang - Harian Jogja/Hengki Irawan
27 Agustus 2020 23:57 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

073

Akan halnya Latri Dewani, memang harus diakui bahwa cintanya semula ditumpahkan kepada Damar, yang kemudian diketahui adalah pamannya sendiri. Lalu, atas “petunjuk” paman itulah, Latri mandah menerima lamaran Dinar, juga seorang pemuda yang perkasa. Cinta kasih suaminya yang tulus, perlahan-lahan menumbuhkan rasa sayang. Itulah sebabnya, tanpa berniat menguji suaminya, Latri sendiri yang menawarkan Demang Dinar memelihara ampeyan. Namun suaminya tidak bergeming. Ia tegas hanya ingin memiliki seorang garwa padmi. Tanpa selir.

“Yayi, engkau membuatku bahagia lewat cara yang orang lain tidak bisa.”

Ketika Latri memeluk hangat, Demang Dinar merangkulkan kedua lengan di leher sang istri. Sekian lama menikah, tapi suami istri ini masih seperti layaknya pengantin anyaran, dan tidak pernah jemu saling menumpahkan rindu. Sore itu mereka bercengkerama di dalam kamar, dan Latri “ngalem” di dada suaminya. Jendela dipentang lebar sehingga udara sejuk memasuki ruangan. Dari kamar tidur pasangan bahagia itu bisa menikmati bunga warna-warni di taman. Kesukaan Latri adalah melati dan anting putri yang harum. Sedangkan Dinar menyukai bunga asoka. Ketiga jenis bunga itu memenuhi halaman persis depan bilik mereka. Ada juga kembang kantil, kenanga dan mawar putih.

Ruangan itu sederhana namun menyenangkan. Hanya ada empat kursi, sebuah meja jati, dan hiasan (wayang) Adipati Karna. Entah mengapa Dinar begitu mengagumi karakter Karna. Di bilik yang sumilir dan semerbak harum bunga, para pelayan sengaja menjauh saat suami istri di situ. Mereka memaklumi kemesraan Dinar dan Latri yang tidak pernah pudar sehingga mereka takut mengganggu jika nimbrung di situ.

“Kangmas Dinar, tidak seperti biasanya wajahmu muram dan kelihatan memendam duka sejak pagi tadi. Kesedihanmu membuat rembulan sampai bersembunyi di balik awan. Kangmas sedang memikirkan apa?” Latri bertanya dengan posisi ngalem di dada suaminya.

Demang Dinar menarik napas panjang. Biasanya, kalau sang istri tercinta menggelayut mesra seperti ini, ia paham Latri menginginkan “sesuatu” dan mereka kemudian bercumbu rayu. Tapi tidak untuk petang ini. Perasaan duka, geram, jengkel, dendam, campur aduk di dadanya.

“Yayi, bagaimana aku tidak risau teringat kematian Pranacitra yang misterius. Juga fitnah yang entah siapa sengaja ingin membuat namaku jelek di depan rakyat serta gusti prabu. Yayi sendiri tentu mendengar desas desus keji itu,”

Latri mempererat lekapannya sampai terasa degup jantung suaminya menjadi satu dengan debar jantungnya sendiri. Ia memang samar-samar mendengar isu yang menerpa suaminya.

“Kangmas, mengapa engkau risau dengan segala omong kosong itu? Biarkan saja mulut usil nyinyir, sepanjang tidak di depan kita. Jika dipikir-pikir di belahan dunia mana yang bebas dari manusia usil? Mereka, entah siapa, dengki terhadap engkau Kangmas, terhadap kita, iri hati terhadap kemesraan kita,” ujar Latri lirih.

“Tidak yayi! Bukan sesederhana itu. Semua desas desus ada pemicunya. Tewasnya mitra sekaligus sahabatku, Pranacitra, pasti berkait dengan fitnah yang dijatuhkan ke pundakku. Tidak hanya Pranacitra yang mati misterius, juga beberapa penggawa mengalami hal sama. Ini aneh dan peristiwanya tidak berdiri sendiri.” Demang Dinar memandang bunga-bunga di depan kamar dengan dahi berkerut.

CERITA BERSAMBUNG: SANDYAKALA RATU MALANG 074