Seniman Ini Hancurkan 5 Ton Buku untuk Memancing Emosi

Seniman Ini Hancurkan 5 Ton Buku untuk Memancing EmosiPerupa Dedy Sufriadi say berada di depan instalasi seni berupa buku-buku yang dihancurkan dengan air, Selasa (15/12/2020). - Harian Jogja/Sunartono.
16 Desember 2020 21:47 WIB Sunartono Hiburan Share :

Harianjogja.com, JOGJA— Sebuah instalasi yang unik bisa ditemukan di Jogja Gallery yang berada di Jalan Pekapalan Alun-Aun Utara, Kota Jogja. Dari depan pintu berdiri sebuah tembok dengan tinggi sekitar 1,5 meter. Namun tembok itu jika diamati bukan beton biasa. Di dalamnya ada ratusan eksemplar buku terselip di balik campuran semen dan pasir.

Memasuki area ruang pameran disambut dengan instalasi yang menimbulkan banyak pertanyaan bagi orang awam. Ribuan buku tertumpuk, berjajar pada ruang dengan panjang belasan meter yang dari atas diguyur dengan derasnya instalasi air. Praktis buku-buku tersebut basah dan terendam air yang perlahan rusak menjadi butiran- butiran laksana lem kanji. Hujan buatan yang membasahi ribuan jenis buku itu pun menimbulkan aroma yang khas di ruang pameran.

Aksi kontroversial ini dilakukan oleh seniman abstrak asal Jogja, Dedy Sufriadi melalui pamerannya bertajuk Superficial Readers A Solo Exhibition by Dedy Sufriadi yang dihelat sejak Rabu (16/12/2020) hingga 15 Januari 2021 mendatang. Pria kelahiran 1976 ini bukan tidak mengetahui bahwa aksi seninya itu kontroversi. Ia sengaja menyuguhkan itu untuk ‘menyulut’ emosi generasi milenial akan kepeduliannya terhadap buku.

Baca juga: Ke Borobudur, Al, Dul dan Eric Soekamti Terkesan Menikmati Masakan Ndeso

“Tahun kemarin [2019] saya membeton 16.000 buku, tahun ini [2020] menghancurkan hampir lima ton buku, maksudnya saya ingin memancing emosi audiens [pengunjung],” kata lulusan ISI Jogja itu, Rabu (15/12/2020).

Aksi itu dilakukan bukan berarti Dedy tak memiliki kepedulian terhadap buku, justru ia termasuk pecinta buku yang memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi ribuan. Ia menyadari Tindakan seni tersebut bisa menimbulkan pro dan kontra, tujuannya sebagai kritik terhadap pergeseran platform dari analog ke digital. Sebagai generasi analog, ia juga tetap mencintai dan menerima kondisi serba digital.

Ia yakin, pecinta buku fanatik pasti tidak rela jika buku yang menjadi kecintaannya dihancurkan. Karya seni itu sekaligus ingin mengetahui seberapa besar generasi saat ini cinta terhadap buku, atau sebaliknya sepenuhnya hanya tertarik dengan yang digital. Parameternya mudah, jika ada pihak yang merespons atau emosi dengan pameran tersebut maka aksi seninya menurut dia berhasil.

Baca juga: Ami Qanita Positif Covid-19, Begini Kata Raffi Ahmad

“Kalau biasa saja tidak ada reaksi [emosi], kita harus bertanya dengan generasi saat ini, ada apa sebenarnya, buku dihancurkan tidak ada yang marah, ketika buku dilumatkan, ini jadi pertanyaan besar,” ucapnya lagi.

Perupa ini sengaja mencurahkan gagasannya dalam merespons perkembangan dunia digital karena efeknya bukan hanya persoalan visual, tetapi ada pergeseran pola membaca yang luar biasa. Zaman dahulu, aktivitas membaca merupakan kegiatan edukatif, karena jelas yang dibaca buku, dapat dipertanggungjawabkan oleh penulisnya. Tetapi selama sepuluh tahun terakhir, membaca hanya sekadar aktivitas rekreatif, ketika membaca tidak butuh refleksi karena hanya sebagai hiburan, seperti halnya membaca sesuatu di media sosial.

Buku-buku yang dihancurkan itu sebelumnya telah dipilih secara random, ia membelinya beberapa ton. Namun sebagian besar merupakan buku pelajaran dari jenjang SD hingga SMP. “Saya sama sekali tidak bermaksud melecehkan buku, saya pecinta buku sejati, ini memang sangat kontroversial, ya sudah lah ini resiko dalam berkesenian,” katanya.

Aksi Sufriadi rupanya mendapatkan respons positif dari seniman tari kontemporer kawakan asal Jogja, Jujuk Prabowo. Bersama timnya, secara khusus ia menampilkan tari kontemporer, di mana beberapa penampilan personel tari menggambarkan generasi saat ini yang sudah tidak lagi menyentuh buku. Penari menampilkan adegan membuang buku pada instalasi seni tempat bercampurnya ribuan buku dengan air.

“Zaman sekarang saya gambarkan dengan banyak mulut. Di buku ilmu yang bagus bisa kita pakai yang kurang juga bisa kita terima harus disimpan sebagai pengingat. Sekuat-kuatnya orang bicara akan kalah dengan air, gua yang ada batunya bisa luka karena air,” ujarnya pria kelahiran 1954 ini.

Komisaris Jogja Galleri Indro Kimpling menyampaikan kekagumannya atas karya Dedy yang bisa memadukan antara ilmu mekanik, konstruksi, arsitektur dan tata kelola air. Karena air dalam pameran tersebut dimodifikasi seperti hujan untuk membasahi buku. “Ini karya komprehensif, Dedy ini penghimpun ilmu ketrampilan, dia bisa membayangkan orang terpesona dengan karya seni instalasi,” katanya.

Kolektor asal Magelang Oei Hong Djien yang hadir dalam pameran tersebut menilai instalasi seni penghancuran buku itu sebagai upaya Dedy dalam merespons kemajuan teknologi. Benda yang konvesional saat ini mulai tak terpakai dan ditinggalkan begitu saja seperti halnya buku. Secara perlahan menjadi bahan museum dengan biaya perawatan yang tidak sedikit. “Pesannya adalah [benda yang konvensional tersebut] tetap harus dipelihara, jangan dibuang,” ucapnya.

Meski digelar secara luring, namun pameran ini digelar terbatas. Registrasi luring hanya untuk 15 orang setiap sesi dengan protokol kesehatan yang sangat ketat seperti wajib cuci tangan dan memakai masker. Sesi kunjungan antara lain, sesi 1 pukul 10.00 - 12.00 WIB, Sesi 2 antara 13.00 - 15.00 WIB dan sesi 3 dari 16.00 - 18.00 WIB.