Advertisement

KPI Angkat Bicara Soal Sanksi Siaran Langsung Lamaran Atta-Aurel

Newswire
Rabu, 31 Maret 2021 - 21:07 WIB
Nina Atmasari
KPI Angkat Bicara Soal Sanksi Siaran Langsung Lamaran Atta-Aurel Pasangan Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah saat menikmati makan di JAQS beberapa waktu lalu. - Ist/Antara

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA- Siaran langsung prosesi lamaran pasangan selebritas Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah di televisi ditanggapi Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Rencana pernikahan keduanya tidak hanya disambut gembira oleh para penggemarnya, namun juga menuai kritik karena disiarkan secara langsung di stasiun televisi, menggunakan frekuensi yang merupakan publik.

"Apakah pemanfaatan frekuensi publik untuk konten privat boleh atau tidak, harus dilihat seperti apa kontennya," kata Wakil Ketua KPI Pusat, Mulyo Hadi Purnomo, dalam webinar Kupas Tuntas Penyiaran di Indonesia, Rabu (31/3/2021).

PROMOTED:  Resmikan IKM di Umbulharjo, Dinas Perinkopukm Jogja Berharap IKM Naik Kelas

Baca juga: Raffi Ahmad Bangun Lapangan dan Akan Dirikan Sekolah Sepak Bola

Menurut Mulyo, laporan yang masuk ke KPI pusat soal tayangan tersebut cukup tinggi. Setelah mengadakan rapat pleno, KPI akhirnya memberikan sanksi berupa peringatan keras kepada stasiun televisi yang menayangkan acara lamaran tersebut.

Peringatan keras, dikatakan Mulyo, tidak ada dalam aturan penyiaran, yang menyatakan sanksi administrasi berupa teguran atau pembinaan jika ada pelanggaran.

"Kami pada waktu itu memanggil dan meminta pertanggungjawaban," kata Mulyo.

KPI juga mendapat usulan mengenai konten serupa agar tidak semata-mata direkam apa adanya kemudian disiarkan secara langsung karena tidak bermanfaat bagi publik.

Baca juga: Aurel dan Atta Batal Nikah di GBK, Gantinya di Sini...

Advertisement

Mulyo menilai ketika seorang tokoh terkenal menikah akan ada potensi diliput media massa atau iklan masuk. Dia mengharapkan jika terjadi peliputan seperti itu, ada penjelasan mengenai tata cara pernikahan terutama jika berkaitan dengan tradisi daerah.

Mulyo mencontohkan misalnya saat tayangan acara siraman, salah satu tradisi di daerah Jawa sebelum menikah, stasiun televisi menyediakan komentator yang memahami budaya Jawa agar bisa menjelaskan filosofi di setiap tahapan Siraman.

"Sehingga isi acara tersebut jadi pengetahuan bagi masyarakat," kata Mulyo.

Advertisement

KPI juga meminta stasiun televisi untuk memperhatikan durasi sebuah acara, yang menurut aturan tertulis di industri penyiaran tidak lebih dari 2 jam.

Sumber : Antara

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

alt

Kabar Duka, Guru Besar Farmasi UGM Tutup Usia

Sleman
| Senin, 03 Oktober 2022, 22:37 WIB

Advertisement

alt

Bikin Konten Prank KDRT, Baim Wong dan Paula Verhouven Dilaporkan ke Polisi

Hiburan
| Senin, 03 Oktober 2022, 21:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement