Advertisement

Jejak Bioskop Lama Jogja di Pusat PKL, Hotel, hingga Puskesmas

Sirojul Khafid
Rabu, 16 Februari 2022 - 14:52 WIB
Budi Cahyana
Jejak Bioskop Lama Jogja di Pusat PKL, Hotel, hingga Puskesmas Teras Malioboro bekas Gedung Bioskop Indra, yang saat ini ditempati PKL Malioboro. - Harian Jogja/Sirojul Khafid

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Hampir semua bioskop lama di Jogja tak kuat bertahan bertahan. Gedung bioskop telah berganti fungsi menjadi pusat pedagang kaki lima atau PKL, hotel, dan puskesmas. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Sirojul Khafid.

“Aku mencintai yang tak berubah, tapi manusia berubah seiring waktu,” kata Choi Ung (Choi Woo-sik) dalam Our Beloved Summer.

Di serial yang ditayangkan Netflix itu, Choi Ung selalu menggambar gedung atau bangunan yang menarik atau memiliki kenangan tertentu. Tidak ada unsur manusia dalam setiap gambarnya. Menurutnya, bangunan lebih konsisten daripada manusia. Mungkin kalimat itu terdengar manis, meski tentunya sangat mungkin kita debat. Bangunan sangat mungkin berubah, baik penampilan atau fungsinya.

BACA JUGA: Menelusuri Bioskop Lama di Jogja, Bertahan dengan Film Seks Sebelum Tumbang karena Monopoli

Bioskop Empire salah satu contohnya. Sekitar 23 tahun lalu, bioskop yang berada di Jalan Urip Sumoharjo masih memutar film bagi penontonnya. Hingga kebakaran menghanguskan gedung berlantai dua itu. Tidak hanya bioskop di lantai dua, supermarket Hero yang berada di lantai satu juga tidak luput dari jilatan si api.

Kabar yang lebih mengenaskan terjadi setelahnya, di tahun yang sama pada 1999. Kebakaran melahap Bioskop Regent yang letaknya berdampingan di sebelah Barat Bioskop Empire. Belasan korban meninggal dunia. Kebakaran terjadi saat film masih diputar.

Dyna Herlina Suwarto samar-samar mengingat kebakaran itu. Yang jelas, setelah kebakaran Bioskop Empire dan Regent, bisa dikatakan Jogja tidak memiliki bioskop yang layak.

Memang masih ada bioskop seperti Permata, Indra, dan lainnya. Namun filmnya tidak se-update Empire. Menjelang masa penutupannya, bioskop-bioskop itu lebih banyak memutar film seks atau horor dengan kualitas rendah.

“Filmnya jelek, kualitasnya menurun. Kemudian masyarakat lebih banyak nonton televisi, enggak mau ke bioskop lagi,” kata Dyna, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta, Rabu (9/2/2022).

Mungkin Bioskop Empire masih tergolong beruntung. Gedung bioskop itu kini memang berubah, tetapi masih sesuai khitah-nya sebagai bioskop. Saudara di sampingnya, kini berubah menjadi pekarangan kosong, dan jadi tempat parkir nonresmi bagi penonton.

Advertisement

Geng bioskop yang sama-sama pernah berada di Jalan Urip Sumoharjo memiliki nasib berbeda. Bioskop Rahayu kini menjadi toko tekstil dan Bioskop Royal menjadi toko ban. Di jalan yang sama, pernah ada juga Bioskop Mitra atau Palace. Berjalan ke arah Barat atau di Jalan Jenderal Sudirman, kita bisa menengok Hotel Novotel yang sebelumnya Bioskop President. Berlanjut ke arah Selatan, ada bekas Gedung Bioskop Indra di Jalan Margo Mulyo atau kawasan Malioboro.

Berdiri sejak 1916, nama awalnya Bioskop Al Hambra. Kala itu ada dua gedung bioskop, Al Hambra dan Mascot. Al Hambra tempat menonton film masyarakat kelas sosial atas seperti keturunan Eropa, pengusaha Tionghoa, serta bangsawan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sementara Mascot untuk pribumi.

BACA JUGA: Spider-Man No Way Home Kini Ditayangkan di HBO Max dan STARZ

Advertisement

Sejak Indonesia merdeka pada 1945, Al Hambra berganti nama menjadi Indonesia Raya (Indra). Bioskop Indra dan Bioskop Luxor (kemudian berganti nama menjadi Permata) adalah bioskop popular kala itu. Mereka sering memutar film yang update. Kini bekas bangunan Bioskop Indra yang memiliki nuansa Belanda menjadi Teras Malioboro, tempat relokasi Pedagang Kaki Lima (PKL) yang sebelumnya berjualan di lorong Jalan Malioboro.

Berlanjut ke arah timur, dahulu ada Bioskop Senopati dan Bioskop Yogya yang berada di satu kawasan. Kini kita bisa melihat bangunan utama Taman Pintar sebagai pengganti kedua bioskop itu. Bergeser sedikit ke selatan, di Jalan Pekapalan ada Jogja Gallery yang sebelumnya Bioskop Soboharsono. Tidak jauh di Timur-nya, ada lahan bekas Bioskop Widya di Jalan Ibu Ruswo. Dalam beberapa waktu ke depan, lahan itu akan menjadi Puskesmas Gondomanan.

Tinggal Nama

Bioskop-bioskop lama lain yang kini hanya kita dengar namanya di Jogja adalah Bioskop Galaxy dan Golden di Jalan Magelang, Bioskop Ratih di Jalan Margo Utomo, Bioskop Arjuna di Jalan Tentara Pelajar, Bioskop Remaja di Jalan Wates, Bioskop Toegoe di Jalan Jenderal Sudirman, Bioskop THR di Jalan Brigjen Katamso, Bioskop Murba di wilayah Patuk, serta Bioskop Istana di Jalan Kemasan.

Bioskop generasi awal digantikan oleh bioskop berjejaring. Ada Jaringan 21 yang berada di Jalan Urip Sumoharjo, Ambarukmo Plaza, Jogja City Mal, dan Sleman City Hall. Pecinta film dari Korea Selatan bisa merapat ke CGV di J-Walk, Hartono Mal, serta Trans Mart. Ada pula Bioskop Cinepolis di Lippo Plaza.

Advertisement

BACA JUGA: Drakor Love and Leashes Sudah Dirilis, Banyak Adegan Dewasa

Selain Empire XXI, semua bioskop berada di mal. Hal ini yang sedikit banyak Azka Ramadhan resahkan. Dahulu, saat masih sering menonton di Bioskop Mataram dan sejenisnya, Azka tidak terlalu memikirkan pakaian yang hendak dia kenakan.

“Dulu bioskop kayak festival film, kayak pesta rakyat. Orang pakai sendal jepit, celana pendek, sama kaus oblong pun merasa nyaman. Sekarang pakai sandal jepit dan celana kolor pasti diliatin orang-orang. Itu yang hilang. Sekarang gengsi-gengsian, upload story, update, dan lainnya,” kata Azka, salah satu warga Jogja, Senin (7/2/2022). “Ini keresahan sebagai pencinta film, sekarang orang nonton harus dandan, kece, kaya tempat elite, aku agak risih.”

Advertisement

Perkembangan bioskop membuat fungsinya semakin melebar. Dyna mengatakan saat ini bioskop juga tempat orang nongkrong, tidak semata-mata nonton film. Beberapa pengusaha bioskop juga mengubah konsepnya. “Konsep tidak hanya nonton film, tapi juga bisa untuk nonton konser, makanan di restorannya enak, sampai untuk gathering di bioskop,” kata Dyna yang saat ini sedang kuliah Strata 3 di Film and Television Studies, University of Nottingham, Inggris.

Bahkan meski sekarang makin jamak layanan streaming film, bioskop juga tetap akan bertahan. Sejarah memperlihatkan adanya medium baru tidak menggantikan yang lama. “Bioskop tidak akan hilang, tetapi dia akan berubah,” kata Dyna.

 

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement

alt

Penyandang Disabilitas Apresiasi Layanan Ojol

Jogja
| Minggu, 02 Oktober 2022, 10:47 WIB

Advertisement

alt

Bocoran Spin-off Money Heist 'Berlin', Tayang 2023 di Netflix

Hiburan
| Minggu, 02 Oktober 2022, 06:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement