Musik Indonesia, Bekraf: Kita Mau Tembus Pasar, bukan Hanya Hibur Orang

Musik Indonesia, Bekraf: Kita Mau Tembus Pasar, bukan Hanya Hibur OrangPergelaran musik dayak berjudul Apolagaan, karya tugas akhir penciptaan mahasiswa Jurusan Etnomusikologi ISI Jogja, Alexander Ongki Anas Pralindo, yang digelar di Concert Hall, TBY, Jumat (31/5/2019). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
12 Juli 2019 06:47 WIB Newswire Hiburan Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Musisi Indonesia diyakini bisa membawa karya-karyanya menembus pasar musik internasional jika masuk ke ekosistem musik digital yang tepat.

"Karena Bekraf [Badan Ekonomi Kreatif] tugasnya dari sisi faktor ekonomi kreatif, kita justru harus melihat lebih banyak peluang yang bisa membawa talent kita untuk masuk ke ekosistem yang tepat," ujar Wakil Kepala Bekraf Ricky Joseph Pesik di Jakarta, Kamis (11/7/2019).

Ricky menyebut beberapa musisi ada yang mengklaim sudah go international dengan pergi ke Amerika Serikat, namun kenyataanya tidak semua dari mereka benar-benar bisa menembus pasar musik internasional.

"Kita kan mau menembus pasar, bukan cuma mau menghibur orang Indonesia nostalgia dengan musisi Indonesia. Itu yang sedang kita tempuh oleh Bekraf," ujar Ricky.

Untuk itu, kerja sama pengembangan talenta yang dibangun Bekraf dengan label musik Amerika Serikat 88rising, yang telah melahirkan Rich Brian dan NIKI, dinilai sebagai kerja nyata untuk musisi Indonesia ke panggung internasional.

Bekraf melalui program "Indonesia Creative Incorporated" (ICINC) juga akan memberangkatkan enam solois terpilih untuk pentas di Los Angeles, Amerika Serikat. Mereka adalah Amanta Artadhia Siregar, Devinta Trista Agustina, Monica Eva Sancti, Nicholas Hardy, Steffani Baretta, dan Marcello Laksono.

Ricky mengharapkan enam solois yang dikirim melalui program kerja sama itu tidak hanya matang secara kemampuan, namun dapat terus membuat karya di Amerika Serikat dan ikut tur dunia bersama artis 88rising.

Sumber : antara