Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 009

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 009Sandyakala Ratu Malang - Hengki Irawan
06 Juli 2020 01:17 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

Begawan Sempani ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamar tahanan, masih tersenyum sabar dan lindap. Demang Suradipa tak henti-henti menyumpah serapah. Dan, hanya Nimas yang cantiknya paripurna, bertubuh sekal yang kuasa meredakan amarahnya.

“Kangmas,” kata Lembah Manah dengan menggelayut manja. “Saya sudah mendengar ramalan Begawan Sempani. Jika kakang menganggap saya sumber petaka di Tembayat ini, maka benar sekali anjuran Begawan Sempani,” sambungnya dengan paras duka.

“Benar apanya?” Ki Suradipa mengerutkan dahi.

“Bunuh saya, Kangmas. Saya rela berkorban demi ketenangan kakang,” Lembah Manah menangis terisak. Bahunya yang mulus terguncang-guncang.

“Jangan hiraukan bualan dukun lepus itu, Yayi.”

“Jadi? Menurut Kangmas dia bukan panembahan suci yang permana?”

“Apa, Yayi? Panembahan suci? Ha ha ha, Sempani cuma dukun kampung picisan.”

“Jika demikian, Kangmas, orang itu berbahaya sekali bagi kademangan ini. Dia dihukum mati saja agar seterusnya Kangmas hidup tenang aman tenteram.”

“Memang, Yayi. Pikiran kita sama. Tadi, kalau tidak keburu dicegah para paman waskita, Sempani sudah aku binasakan saat itu juga. Besok aku perintahkan para pengawal menjatuhkan hukuman picis,” geram Demang Suradipa.

“Aduh, Kangmas, mana tega aku membayangkan itu? Kasihan. Ia akan sangat menderita sebelum nyawanya meregang. Jangan dihukum picis, Kangmas,” ujar Lembah dengan gemetar.

Ki demang memeluk ketat selir tercintanya. Dengan mesra dagu Lembah diangkat.

BACA JUGA: Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 008

“Makhluk begini manis, begini juwita, begini lembut perasaannya serta penuh kasih, ini yang disebut siluman berupa manusia oleh Sempani. Edan koplak dukun gemblung itu,” bisik Ki Suradipa yang dibalas gelendotan mesra oleh Lembah Manah. Mereka berpagutan lama. Demang Tembayat itu tidak sepenuhnya salah, memang. Nimas Lembah jelita, dan ketika tersenyum kian manis, salah-salah membuat pengagumnya kena diabetes saking legitnya.

“Apakah sebaiknya Sempani dihukum pancung?” tanya demang yang lagi kasmaran itu.

“Saya sangsi, Kangmas, jangan-jangan ia memang sangat ampuh. Bukankah belum lama ini kita menangkap macan loreng dari Alas Roban yang wingit? Sebaiknya ia kita uji kesaktian serta kadigdayannya. Jika benar ia mampu mengalahkan macan buas itu dengan selamat, artinya sang begawan seorang suci dan tidak layak dihukum mati. Justru saya yang memang seharusnya dibinasakan,” ujar Lembah Manah dengan sinar mata mencorong. Benar-benar cetar tledek belia yang semuda itu sudah piawai mengendapkan perasaan. Ia sangat membenci sang begawan tapi tampil arif, dan berseberangan dengan namanya lembah manah (hati yang lembut) justru ia ingin mencelakakan musuhnya dengan cara yang jauh dari lembut.

“Kalau Sempani kalah?”

“Berarti benar dugaan Kangmas, ia dukun penipu yang sepatutnya dihukum mati.”

Ki demang memuji selirnya yang selain gandes luwes juga “bijaksana” ini. Dan, malam yang sedikit gerah itu sebagai saksi mereka bersenang-senang mengumbar berahi sampai pagi.

Saat terang tanah, Demang Suradipa memerintahkan Pardal untuk wara-wara ke seluruh penduduk Tembayat, bahwa di alun-alun akan diadakan “ujian” bagi Begawan Sempani. Pendeta renta itu akan diadu dengan macan loreng ---- semacam rampogan, bedanya kali ini seorang lawan harimau, bukan keroyokan. Jika ia terkapar dalam “fit and proper test” tersebut, terbukti ia dukun lepus. Jika Begawan Sempani menang, ia akan dibebaskan dari hukuman. Pada abad 17 peradaban, juga kebiadaban, ada di titik nadir. Dendam bertiwikrama sebagai hukuman.

BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 010