Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 010

Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 010Sandyakala Ratu Malang - Hengki Irawan
06 Juli 2020 02:17 WIB Joko Santosa Hiburan Share :

RAKYAT menyambut wara-wara itu dengan penuh sukacita. Sudah menjadi fenomena yang lumrah, bahwa sesuatu yang unik senantiasa menarik. Dan nafsu purba yang ada sebagai default, membuat manusia pada titik-titik tertentu menjadi haus darah, juga petaka. Jika kawula gembira, sebaliknya para penasihat dan sentana merasa cemas karena “ujian” semacam itu selain tidak laik juga terlampau kejam. Sebelum ditangkap, sang macan telah melalap puluhan warga sekitar hutan, dan siapapun paham harimau merupakan hewan super beringas. Tapi, bukan hanya pada zaman itu, tatkala seseorang memegang daulat yang seolah tanpa batas, siapa berani menentang kekuasaan? Maka kezaliman akan terus ada di muka bumi; bukan karena banyaknya orang jahat; namun karena diamnya orang-orang baik yang nyaman di zona aman.

Sejak matahari masih bermalas-malasan untuk menampakkan diri, rakyat Tembayat tua muda berduyun-duyun ke alun-alun. Setelah gong dipukul tiga kali, Demang Ki Suradipa keluar dari regol kademangan diiringi para prajurit. Tampak selir kesayangannya, Lembah Manah, ikut menyaksikan “tontonan” yang merupakan buah “kreativitas”-nya itu.  Para pemuda tiada henti memuji keelokan paras Nimas Lembah, dan dalam hati mengakui jika mereka “ketiban sampur” dicintai perempuan secantik itu tentu sanggup melakukan apapun permintaannya yang bahkan musykil sekalipun.

Beberapa tamtama berbadan kekar menggotong sebuah kurungan besi yang kuat dan juga kelihatan sangat berat. Para pemirsa merasa ngeri menampaki yang berada di dalam kurungan itu seekor macan loreng raksasa. Ketika harimau itu melihat kerumunan manusia, ia mengaum keras menggetarkan bumi. Para penonton di barisan depan langsung mundur membuat suasana kacau.

Serombongan prajurit khusus bersenjata tombak berbaris melingkar, dan para penonton hanya diizinkan berdiri di belakang “pagar” tentara itu. Kembali Ki Suradipa berteriak memberi aba-aba, dan dari kamar tahanan muncul Begawan Sempani yang uzur itu berjalan dengan paras tenang tanpa meninggalkan senyum teduhnya. Kedua tangannya diborgol dengan gari tebal yang dipasangi rantai baja, ujung rantai dipegang oleh seorang prajurit bertubuh tinggi besar. Dan para penonton? Alih-alih berempati, mereka malah menyambut dengan tepuk tangan riuh rendah. Di titik ini kembali selera purba menampakkan wujutnya: manusia suka melihat kesengsaraan liyan.

BACA JUGA: Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 009

Melihat ketenangan Begawan Sempani, mata Nimas Lembah berkilat-kilat. Betapa benci merasuki batinnya. “Pendeta edan, tanpa hujan tanpa angin hendak mencelakakan aku, yang tak kenal sama sekali. Orang sudah bau kuburan masih tidak nggenah,” geramnya dalam hati.

“Engkau bilang apa, Yayi?” tanya Ki Suradipa sambil membelai lengannya. Selir cantik itu geragapan. Barangkali kebenciannya sampai ubun-ubun sehingga tanpa sadar ia bergeramang.

“Saya takut, Kangmas. Cepat laksanakan ujian ini agar cepat rampung,” bisiknya.

Ki Suradipa memberi tanda, dan belenggu di tangan Begawan Sempani dilepas. Pendeta renta itu berdiri di dekat kurungan dengan menundukkan kepala. Pintu kurungan dibuka, sambil tamtama yang membuka dengan sigap meloncat di belakang barisan prajurit bertombak. Harimau loreng itu mengaum beberapa kali memerlihatkan taringnya, kemudian berjalan keluar perlahan- lahan, matanya mencorong garang. Raja hutan itu tampil elegan layaknya pimpinan.


BERSAMBUNG: Sandyakala Ratu Malang-Bagian 011