Sejarah Klepon, Makanan dari Jawa yang Sudah Dikenalkan ke Belanda Sejak Pertengahan Abad 20

Sejarah Klepon, Makanan dari Jawa yang Sudah Dikenalkan ke Belanda Sejak Pertengahan Abad 20Klepon. - Ist/Instagram @anisakueker
21 Juli 2020 16:58 WIB Nina Atmasari Hiburan Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Kue klepon menjadi viral di media sosial lantaran disebut sebagai makanan yang tidak Islami. Penyebab awalnya adalah sebuah gambar yang diunggah oleh akun @memefess.

Akun tersebut mengunggah foto klepon dengan tulisan yang mengundang kontroversi, yakni "Kue klepon tidak Islami. Yuk tinggalkan jajanan yang tidak Islami dengan cara membeli jajanan Islami, aneka kurma yang tersedia di toko syariah kami."

Baca juga: Heboh Klepon Disebut Jajanan Tidak Islami, Warganet Pertanyakan Siapa Sosok Abu Ikhwan Azis

Masih belum jelas darimana dan siapa pembuat gambar tersebut. Namun, di bagian bawah tertulis nama 'Abu Ikhwan Azis'.

Berasal dari Jawa

Dikutip dari Wikipedia, klepon atau kelepon, adalah kue beras tradisional berwarna hijau yang diisi dengan gua aren cair dan dilapisi kelapa parut. Kue klepon berasal Indonesia, namun sudah dikenal di Asia Tenggara dan umumnya ditemukan di Indonesia, Malaysia, Brunei dan Singapura.

Di bagian lain Indonesia, seperti di Sulawesi, Sumatra dan di negara tetangga Malaysia, ia dikenal sebagai onde-onde atau di beberapa daerah, 'buah melaka' (buah Malaka). Namun di Jawa, onde-onde mengacu pada Jin Cina Deui, bola kue beras yang dilapisi dengan biji wijen dan diisi dengan pasta kacang hijau manis.

Baca juga: Mengenal Klepon yang Viral karena Disebut Tidak Islami, Saat Makan Harus Hati-Hati

Meskipun populer di seluruh Asia Tenggara, klepon mungkin berasal dari Jawa. Hidangan ini juga disebut sebagai klepon di Belanda. Pada 1950-an, klepon diperkenalkan oleh imigran Indo ke Belanda dan sudah tersedia di toko-toko toko, restoran Belanda dan Cina Indonesia dan supermarket di seluruh negeri.

Di Jawa, klepon, bersama dengan getuk dan cenil, sering dimakan sebagai camilan pagi atau sore. Mereka dikategorikan sebagai kue basah, dan merupakan bagian dari jajan pasar tradisional Jawa (bahasa Jawa untuk "beli pasar" atau "kudapan pasar").